Filosofi Ikhlas

Dalam kurun waktu bulan Ramadhan perbincangan yang selalu hangat hadir di antara saya dan suami yaitu bertema “Keikhlasan”. Ya, “Ikhlas” , suatu kata yang mudah diucap tapi (menurut saya) sulit dipraktekkan. Bagi saya “Ikhlas” merupakan tingkatan tertinggi dari sekumpulan perasaan positif yang dimiliki manusia. Pembicaraan tentang ikhlas ini sempat tak tersentuh saat menjelang lebaran. Dan sampailah kami kepada pertemuan dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai tukang pijat di Magelang. Awal mulanya, merupakan suatu ritual biasa, kalau mudik sampai Magelang, malamnya kami minta dipanggilkan tukang pijat. Datanglah seorang ibu paruh baya dengan ukuran fisik yang mungil, berbeda dengan tukang pijat tahun sebelumnya. Yang pertama dipijat adalah suami saya, dan saya ikut menemani di samping suami sembari sesekali berinteraksi dengan Farsya & Amanda. Suami saya mengawali pembicaraan,

“Ibu punya putra berapa bu?”

“Empat mas. Cucu saya mau tiga.”

“Suaminya masih ada bu?kerja apa?”

“Suami saya kerjaannya bikin parutan,tapi sekarang udah engga, udah tua, ga ada tenaganya.”

“Ooo..Ibu sering mijet?”

“Iya mas. Hari ini aja udah dari tadi pagi.”

“Bu, emangnya ga capek mijet dari pagi.”

“Alhamdulillah engga mas.”

“Wah..apa rahasianya bu?”, akhirnya saya tertarik ikutan ngobrol juga ama ibu itu.

“Kalau ikhlas, insyaallah ngga capek. Pekerjaan apapun kalau kita melakukannya dengan ikhlas, insyaallah ngga bikin kita capek.”

Deg…kata-kata ibu itu ternyata sangat membekas di benak saya..Ya, pekerjaan apapun kalau kita melakukannya dengan ikhlas, insyaallah ngga bikin kita capek.

Teringat akhir-akhir ini saya sering mengeluh kepada suami tentang rumah tangga, kerjaan kantor,de el el.pokoknya buanyakk..(terima kasih ya suamiku, masku yang paling tak eman-eman,sudah dengan sabar mendengarkan keluh kesah yang ga mutu dari istrimu ini.).

Ibu itu pun melanjutkan, “Sebenarnya saya tadi waktu sebelum kesini, suami saya marah sama saya, lha wong badha-badha (lebaran, -red) kok masih aja tetep mijet, kapan lerene (istirahatnya, -red). Tapi saya jawab, kan saya mijet itu ibadah,ngobatin orang sakit, kasiankan orang jauh-jauh dari Jakarta. Akhirnya suami saya ngijinin.”

“Suami saya itu orangnya keras, kayak ini (sambil tangannya menunjuk ke dinding), dulu saya sering dipukulin.”

Saya kaget lalu bertanya, “Lho bu kenapa kok sampai sekarang masih bertahan?”

Ibu itu pun menjawab, “Iya mbak, saya takut sama Gusti Allah. Saya niatnya untuk ibadah aja mbak.” (coba orang2 yang pada mau cerai itu denger kata2 ibu ini, pasti takut mau cerai..hihihi..)

“oo..supaya ibu masuk surga?”

“bukan gitu mbak. Saya cuma minta dosa-dosa saya diampuni, karena saya ngga mau masuk neraka, saya takut banget kalo udah denger neraka. Tapi saya juga ngga berani minta masuk surga, lha wong surga itu kan tempatnya nabi-nabi tho.”

“gimana caranya biar ikhlas bu?”

“ada doanya mbak, setiap sehabis sholat subuh baca surat Al-Ikhlas 12x.”

Beberapa pelajaran yang bisa saya ambil dari pertemuan dengan Ibu tukang pijat itu:

-          Supaya beban sehari-hari terasa ringan, syaratnya adalah ikhlas, baik itu di urusan rumah tangga maupun urusan kerjaan/kantor.

-          Menikah adalah ibadah, hanya semata-mata karena Allah SWT. Kalau lagi kesel ama partner hidup, larinya ke Allah SWT aja. Kemenangan sejati adalah saat kita masuk surga dan bertemu dengan Allah SWT.

-          Belajar ikhlas dengan minta bantuan Allah, caranya baca surat Al-Ikhlas 12x dan minta diberikan keikhlasan dalam menghadapi hari ini. Insyaallah kalau kita menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan di hari itu, bisa dengan lapang dada menerimanya. Ikhlas jadi hamba Allah, istri, ibu, pegawai yang solehah.

Advertisement

6 Comments (+add yours?)

  1. mamaray
    Oct 16, 2009 @ 05:22:13

    :) *tersentil

    Reply

  2. yudhistira31
    Oct 16, 2009 @ 08:49:08

    bener…ibadah…ibadah….semoga kita termasuk orang2 yg diberi kesabaran dan diberi kesempatan untuk memupuk terus rasa iklhas yang masih suka timbul tenggelam….. :)

    Reply

    • mahyarina
      Oct 16, 2009 @ 09:01:37

      namanya juga manusia mba..hidup di dunia untuk “ujian”..all day long is examination..untung aq cedhak mb devi sing iso ngelingke aq terus..

      Reply

  3. Devi Yudhistira
    Feb 07, 2011 @ 06:16:15

    Jeng….kutitipkan rinduku padamu via tulisan

    di http://yudhistira31.wordpress.com/2011/02/07/kutitipkan-rinduku-lewat-award/

    dibaca yooo….

    berharap kunjungan kemari lain waktu sudah ada tulisan baru :)

    salam….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.