Filosofi Ikhlas

Dalam kurun waktu bulan Ramadhan perbincangan yang selalu hangat hadir di antara saya dan suami yaitu bertema “Keikhlasan”. Ya, “Ikhlas” , suatu kata yang mudah diucap tapi (menurut saya) sulit dipraktekkan. Bagi saya “Ikhlas” merupakan tingkatan tertinggi dari sekumpulan perasaan positif yang dimiliki manusia. Pembicaraan tentang ikhlas ini sempat tak tersentuh saat menjelang lebaran. Dan sampailah kami kepada pertemuan dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai tukang pijat di Magelang. Awal mulanya, merupakan suatu ritual biasa, kalau mudik sampai Magelang, malamnya kami minta dipanggilkan tukang pijat. Datanglah seorang ibu paruh baya dengan ukuran fisik yang mungil, berbeda dengan tukang pijat tahun sebelumnya. Yang pertama dipijat adalah suami saya, dan saya ikut menemani di samping suami sembari sesekali berinteraksi dengan Farsya & Amanda. Suami saya mengawali pembicaraan,

“Ibu punya putra berapa bu?”

“Empat mas. Cucu saya mau tiga.”

“Suaminya masih ada bu?kerja apa?”

“Suami saya kerjaannya bikin parutan,tapi sekarang udah engga, udah tua, ga ada tenaganya.”

“Ooo..Ibu sering mijet?”

“Iya mas. Hari ini aja udah dari tadi pagi.”

“Bu, emangnya ga capek mijet dari pagi.”

“Alhamdulillah engga mas.”

“Wah..apa rahasianya bu?”, akhirnya saya tertarik ikutan ngobrol juga ama ibu itu.

“Kalau ikhlas, insyaallah ngga capek. Pekerjaan apapun kalau kita melakukannya dengan ikhlas, insyaallah ngga bikin kita capek.”

Deg…kata-kata ibu itu ternyata sangat membekas di benak saya..Ya, pekerjaan apapun kalau kita melakukannya dengan ikhlas, insyaallah ngga bikin kita capek.

Teringat akhir-akhir ini saya sering mengeluh kepada suami tentang rumah tangga, kerjaan kantor,de el el.pokoknya buanyakk..(terima kasih ya suamiku, masku yang paling tak eman-eman,sudah dengan sabar mendengarkan keluh kesah yang ga mutu dari istrimu ini.).

Ibu itu pun melanjutkan, “Sebenarnya saya tadi waktu sebelum kesini, suami saya marah sama saya, lha wong badha-badha (lebaran, -red) kok masih aja tetep mijet, kapan lerene (istirahatnya, -red). Tapi saya jawab, kan saya mijet itu ibadah,ngobatin orang sakit, kasiankan orang jauh-jauh dari Jakarta. Akhirnya suami saya ngijinin.”

“Suami saya itu orangnya keras, kayak ini (sambil tangannya menunjuk ke dinding), dulu saya sering dipukulin.”

Saya kaget lalu bertanya, “Lho bu kenapa kok sampai sekarang masih bertahan?”

Ibu itu pun menjawab, “Iya mbak, saya takut sama Gusti Allah. Saya niatnya untuk ibadah aja mbak.” (coba orang2 yang pada mau cerai itu denger kata2 ibu ini, pasti takut mau cerai..hihihi..)

“oo..supaya ibu masuk surga?”

“bukan gitu mbak. Saya cuma minta dosa-dosa saya diampuni, karena saya ngga mau masuk neraka, saya takut banget kalo udah denger neraka. Tapi saya juga ngga berani minta masuk surga, lha wong surga itu kan tempatnya nabi-nabi tho.”

“gimana caranya biar ikhlas bu?”

“ada doanya mbak, setiap sehabis sholat subuh baca surat Al-Ikhlas 12x.”

Beberapa pelajaran yang bisa saya ambil dari pertemuan dengan Ibu tukang pijat itu:

-          Supaya beban sehari-hari terasa ringan, syaratnya adalah ikhlas, baik itu di urusan rumah tangga maupun urusan kerjaan/kantor.

-          Menikah adalah ibadah, hanya semata-mata karena Allah SWT. Kalau lagi kesel ama partner hidup, larinya ke Allah SWT aja. Kemenangan sejati adalah saat kita masuk surga dan bertemu dengan Allah SWT.

-          Belajar ikhlas dengan minta bantuan Allah, caranya baca surat Al-Ikhlas 12x dan minta diberikan keikhlasan dalam menghadapi hari ini. Insyaallah kalau kita menghadapi sesuatu yang tidak mengenakkan di hari itu, bisa dengan lapang dada menerimanya. Ikhlas jadi hamba Allah, istri, ibu, pegawai yang solehah.

Comments (4) »

Sang Pengantin Surga

Sumber: Majalah PARAS No. 72/Tahun VII/Oktober 2009

Semoga kita semua bisa meneladaninya..Amiin..Amiin..Amiin..Ya Robbal’alamiin..

Kisah Teladan: Ali dan Fathimah Sang Pengantin Surga

Segala puji bagi Allah. Dia-lah yang dipuji karena berbagai kenikmatan-Nya, yang disembah karena kekuasaan-Nya, yang kekuasaan-Nya dipatuhi, yang azab-Nya dihindari, yang perintah-Nya dipatuhi di bumi dan di langit, yang menciptakan makhluk-Nya dengan kekuasaan-Nya, dan membedakan mereka dengan hukum-hukum-Nya, serta memuliakan mereka dengan Nabi-Nya, Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah SWT menciptakan pernikahan sebagai wahana menciptakan keturunan, sehingga hidup manusia menjadi teratur dan tidak kacau.

Allah SWT berfirman dalam QS. 25: 54,

” Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan yang  berasal dari keturunan) dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”

juga dalam QS. 13:39,

” Perintah Allah akan terlaksana sesuai dengan rencana-Nya. Setiap pelaksanaan (qadha) adalah sesuai dengan rencana (qadr), setiap rencana akan ditentukan pelaksanaannya. Dan setiap pelaksanaan, ketentuan pasti tertulis. Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab.”

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku untuk menikahkan Fathimah dengan Ali. Saksikanlah oleh kalian semua bahwa aku telah menikahkan Fathimah dengan Ali, dengan mahar sebesar empat ratus mitsqal perak. Semoga Allah meridai mereka yang telah menuruti Sunnah yang berlaku, dan kewajiban yang ditetapkan atas mereka.

Usai khotbah, Rasulullah mendoakan mereka agar menjadi pasangan yang saling menghargai dan memperoleh keturunan yang saleh. Dan kepada para tamunya, Rasulullah menyodorkan kurma untuk dicicipi.

Fathimah pun diantar Ummu Salamah ke rumah Ali, dengan pesan akan disusul oleh Rasulullah. Selepas salat Isya, Rasulullah berangkat menuju rumah Ali, beliau membawa wadah air terbuat dari kulit. Dari wadah itu Rasulullah meminta sang pengantin meneguk airnya, kemudian Rasulullah berwudu pula, lalu dipercikkannya kepada sang pengantin sembari Rasul membekali doa al-Mu’awwidzalayn (surat Al-Falaq dan An-Nas).

Tangis Fathimah meledak. Dengan pernikahannya bersama seorang prajurit Islam yang juga sepupunya, Fathimah telah membatalkan ikrarnya sebagai ibu dari ayahnya (ummu abiha), yang akan senantiasa di samping ayahandanya dalam duka perih menegakkan Islam. Namun takdir menulis lain. Seorang gadis lincah dan terampil telah mengisi rumah tangga ayahnya. Ya, Fathimah telah diberi tanda bahwa Aisyah, putri Abu Bakar Siddiq akan menggantikan perannya di rumah Rasulullah.

Datangnya Aisyah memberi jalan bagi Ali untuk mendekatkan diri kepada Fathimah, bukan sebagai sepupu dan teman sepermainan semenjak kecil, melainkan sebagai seorang laelaki dewasa yang butuh sandaran seorang perempuan. Yang memberi hiburan, yang menyemangati, yang menurunkan keturunan penyambung generasi, dan menjadi teman seiring dalam mengarungi bahtera kehidupan. Ya, yang memberi cinta.

Karena itulah, ketika Rasul berpamitan, beliau bersabda,

“Wahai anakku, aku telah meninggalkan dan menitipkanmu kepada seorang laki-laki yang imannya begitu kuat jika dibandingkan dengan keimanan manusia lain, ilmunya lebih luas daripada ilmu semua orang. Dialah yang paling berakhlak mulia di antara kaum kita, bahkan berderajat paling tinggi.”

Sabda Rasul adalah titah yang memang telah dijalankan oleh dua pengantin surga itu. Mereka adalah pengisi rumah Rasulullah semenjak belia, sehingga mereka hafal apa saja yang dianjurkan, diperintahkan, sekaligus yang harus dihindari. Rumah tangga Rasulullah senantiasa dinamis dalam gerak dakwah dan amal ibadah, namun tidak menoleransi pemuasan hasrat bendawi. Tidur hanya di pelepah daun kurma kering, baju hanya yang tersaji di badan, puasa menjadi andalan ketika makanan yang sedikit pun harus dibagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Tiada pemberontakan dalam rumah tanpa iringan furnitur indah itu, apalagi simpanan emas dan logam mulia lainnya. Namun aura rumah tiada kalah cemerlang. Kebahagiaan dalam ujud senyum dan tangis cemas oleh sedikitnya bekal akhirat menjadi keseharian dari penghuni rumah yang tiada henti dalam melantunkan kidung doa dan salat. Siapa yang tiada suka bila rumahnya dimuliakan dan senantiasa dikelilingi para malaikat yang senantiasa mendaras doa bagi keselamatan para penghuninya?

Ali dan Fathimah memang ditakdirkan sebagai pengantin surga. Kendati lahir sebagai anak bungsu, Fathimah lah yang paling menderita. Kakaknya Ruqayyah dan Ummi Kulsum telah menghuni rumah besar bersama dengan suami yang berkecukupan, sementara Fathimah harus ikut menanggung lara oleh belitan boikot kejam Quraisy dalam masa pertumbuhannya. Ia pun senantiasa mendampingi ayahandanya, mengusap peluh keringat maupun darah dari dahi Rasul, menghibur diri Rasul, tatkala warta kenabian dan ajaran Allah dicerca sebagai ajaran orang gila.

Demikian pula Ali. Seorang anak yang pertama kalinya mengakui Rasul dan ajarannya, pun siap menjadi tameng bagi keselamatan Rasul. Kendati tiada prajurit yang sehebat dia, dia tidak menjadi jenderal yang bergelimang hormat semu, kendati paling pintar di antara semua sahabat, Ali tidak memanfaatkannya menjadi cendekiawan yang murah untuk mendukung menjatuhkan penguasa dengan imbalan harta.

Keduanya bahkan tidak sempat hidup secara layak, bukan mewah. Kain tidur sang singa Allah itu akan menyingkap kakinya bila ditarik ke atas, demikian sebaliknya, kepala dan dadanya tersembul tatkala kain tidurnya ditarik ke mata kaki.

Tak tega melihat Fathimah yang semenjak muda sudah kurang tidur dan makan, sementara ia harus menyelesaikan urusan rumah tangga yang banyak, Ali menyarankan Fathimah agar meminta kepada Rasulullah seorang budak guna meringankan beban rumahnya.

Fathimah mendatangi Rasul untuk keperluan itu. Lidahnya mendadak kelu hingga batal melontarkan permintaannya. Tatkala ditemani Ali, Rasul bahkan menolak permintaan itu, bahkan itu seorang tawanan perang. Dan begitu mereka mendengar alas an ada yang lebih membutuhkan, Ali dan Fathimah pun pulang tanpa rasa kesal.

Rasul pun mendatangi mereka yang tengah kedinginan di rumahnya sekait tidak cukupnya selimut untuk menutup tubuh mereka. Sekali lagi, warta surga dari Jibril sudah cukup untuk menundukkan hasrat dan gelora duniawi karena apa yang lebih dari itu di dunia yang serba menghauskan itu.

“Setelah usai salat, katakanlah Allahuakbar 10x. Katakan Alhamdulillah 10x, dan Subhanallah 10x. Ketika kamu bersiap-siap tidur, katakana Allahuakbar 35x, Alhamdulillah 33x, dan Subhanallah 33x.”

Kelak, 25 tahun setelah malam itu, Ali berkata,

“Semoga Allah menjadi saksi bahwa sejak malam saya menerima pelajaran ini dari Nabi, saya tak pernah melupakannya. Bahkan dalam Perang Shiffin (perang antara Khalifah Ali dan Muawiyah). Bahkan di malam Shiffin.”, tekannya.

Ketika kata-kata surgawi telah meresap dalam hati jiwa-jiwa yang terdidik rohaninya semenjak usia belia, tiada lagi ungkapan manja dan rengek cengeng dalam mengarungi rumah tangga. Betapa jua beratnya. Tujuan membina keluarga adalah proses menyempurnakan akhlak pribadi maupun bersama, juga untuk menurunkan generasi-generasi luhur budi yang bertauhid kuat, bukan mengumbar aib keluarga dan memuara gampang pada gugat cerai.

Comments (2) »

Doa & Prasangka Baik Seseorang Kepada Yang Maha Mendengar

Ketika kumohon pada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat

Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah untuk kupecahkan

Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan, Allah memberiku kepapaan untuk dihadapi

Ketika kumohon pada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi

Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta, Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong

Ketika kumohon pada Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan

Aku tak pernah menerima apa yang kupinta, Tapi aku mendapat segala yang kubutuhkan

Doaku terjawab sudah….

Sumber: Buku “Ibu, dari mana aku berasal?” by Lara Fridani (PT ARGA Publishing)

Leave a comment »

let them discover it

Jean Jacques Rousseau mengatakan:

“childhood has its own ways of seeing, thinking, and feeling. Let them know nothing because you have told them, but because they have learned it for themself. Let them not be taught science, let them discover it. If ever you substitute authority for reason they will cease to reason, they will be a more plaything for other’s people taught.”

(Anak memiliki caranya sendiri dalam melihat, berpikir dan merasakan sesuatu. Biarkan mereka tahu sesuatu karena mereka telah mempelajarinya sendiri, bukan karena kita memberitahunya. Biarkan mereka menemukan “sains”, bukan karena sekedar kita beritahu sains. Jika kita menggunakan otoritas kita dalam menyampaikan alasan tertentu, mereka akan menghentikan kemampuan nalarnya dalam hal itu, mereka hanya akan jadi “permainan” bagi pemikiran orang lain)

Sumber: Buku “Ibu, dari mana aku berasal?” by Lara Fridani (PT ARGA Publishing)

Leave a comment »

Amanda & Dapur

Ga tau kenapa ya..anak-anak tuh hobi banget main ke dapur..atau mungkin udah fitrahnya anak perempuan ya..dulu Farsya juga..ee ternyata Amanda sekarang juga..

Kebiasaan Amanda sekarang ini, tiba-tiba jalan ke arah dapur, lalu dia menuju rak piring, dia buka pintu rak terus dia ambil piring plastik…Setelah itu otomatis dia langsung menuju ember besar tempat air masak, dia buka tutup ember yg besar itu lalu dia masukkan piring plastik itu (seperti bermain peran sedang mencuci piring)…

Beberapa minggu ini kebiasaannya nambah, setelah ambil piring di rak lalu dia akan bilang mammam..mammam..maksudnya minta diambilin makanan…walaupun sebelumnya dia udah makan…

Leave a comment »

Sholatnya Amanda

Alhamdulillah akhir-akhir ini Amanda mendapat hidayah dari Allah SWT…Salah satunya yaitu Amanda sudah mulai tertarik ikut sholat berjamaah…

Awalnya waktu Ayah dan Bunda bersiap-siap menggelar sajadah, Farsya menyatakan ingin ikut sholat lalu Amanda pun akan ikut-ikutan juga. Amanda minta dibantu (dengan bahasa tarzannya) menggelar sajadah. Setelah Bunda dan Farsya memakai mukena, Amanda juga minta pakai mukena. Tapi karena Amanda belum punya mukena sendiri jadi gantinya dipakaikan jilbab, yaitu jilbab rusa.

Seterusnya jika waktu sholat telah tiba, Amanda otomatis selalu sajadah dan jilbab itu yang dia minta pakai…hihi..lucu juga ngliatnya..Walaupun tidak pernah sampai selesai rakaatnya..

Ada beberapa gerakan yang sudah mulai Amanda kenal, yaitu takbir (dengan gerakan tangannya yang ke atas) dan ruku’/sujud (tapi bentuknya jadi nungging..hehehe..)..tapi ga papalah..sudah merupakan awal yang bagus bagi anak seumur Amanda (1,5 th)..

Leave a comment »

Bu Lisna said that…

Hanya sekedar ingin mengabadikan ucapan-ucapan Bu Lisna (beliau adalah Konselor Parenting pada Rumah Parenting Yayasan Kita & Buah Hati) di saat hati ini sedang gundah dengan “multi function of me”….

Me: Assalamu’alaikum warahmatullahi wb Bu Lisna yang selalu dirahmati Allah.Bu Lisna mohon pencerahannya bila terjadi situasi ayah “bermasalah (capek krn kerja)”, bunda “bermasalah (capek krn kerja)”, dan anak-anak juga ikut “bermasalah”?

Bu Lisna: Wa’alaikumsalam wr.wb. Terima kasih do’anya Rin, mesti evaluasi lagi apa prioritas dalam hidup,bukankah smua kita dedikasikan untuk anak-anak?Ayah bekerja Ibu bekerja bukankah untuk anak-anak?jadi kalo dalam prosesnya anak-anak tidak menikmatinya, rasanya kita harus adil dengan mereka. Capek itu konsekuensi karena itu Allah SWT menyiapkan pahala yang besar, berupa kemuliaan hidup termasuk anak-anak, itu yang ditanyakan di akhir nanti.

Me: Huu..Bu Lisna jadi pengen nyoba alternatif hypnotherapy untuk membantu saya Bu..

Bu Lisna: Menggunakan jasa hypnotherapy bisa saja Rina sayang, tapi itu cuma salah satu cara agar Rina bisa lebih rileks dan berdamai sekaligus menerima dengan ikhlas kesenjangan antara harapan dengan realitas.

Me: Jadi menurut Bu Lisna saya sebaiknya gimana Bu…

Bu Lisna: Rileks aja Rin. Ga usah terlalu tegang menghadapi masalah. Riak-riak kecil dalam rumah tangga itu biasa, anak-anak aktif dan rewel itu khas anak-anak. Yang paling penting bagaimana menjaga hati dan perasaan kita agar tetap positif (ikhlas, senang, syukur, dan penuh cinta) sehingga selalu ada ruang untuk anak dan suami.

Me: Hwaaaa..jadi pengen ketemu dengan Bu Lisna..biar tetep adem..

Bu Lisna: Alhamdulillah Rin, terima kasih, saya kembalikan pujiannya kepada Allah SWT, kalau berkenan silakan Rina buat janji di Rumah Parenting agar lebih kondusif

Me: Maaf ya sebelumnya Bu Lisna saya tiba-tiba sms yang tidak mengenakkan seperti ini..mungkin ini tandanya saya sedang jauh dari Allah SWT ya bu..lagi bete n capek aja bu..suami lg sering lembur kerjaannya, kerjaan saya juga lg menuntut waktu lebih,blm dpt asisten rumah tangga (alhamdulillah sekarang udah dapet)..fiuuhh..alhamdulillah jadi lebih lega setelah ngobrol dengan Ibu..Makasi banyak ya bu…

Bu Lisna: Alhamdulillah…kelihatannya Rina sudah tahu penyebabnya..??yayaya..

Keesokan harinya Bu Lisna mengirimkan sms berupa do’a yang sangaaaattt menyejukkan..maknyess..

Bu Lisna: Ya Allah…Jadikan wanita yang membaca ini menjadi wanita yang cantik, kuat, sabar, sehat & disyangi banyak orang. Tolong & tingkatkan kehidupannya. Begitupun jika dia melangkah, selamatkan dia dan jauhkan dia dari perbuatan yang Engkau benci dan menjauhkan dia dari cintaMu…Untukmu adiku,selamat beraktifitas

Me: Makasi Bu..smoga Bu Lisna juga…

Bu Lisna: Amiin Ya Allah…Rina sayang…

Comments (4) »

Spiritual Parenting Ala Rasulullah

Etika Dakwah dan Pendidikan Rasulullah:

1. Menempatkan diri sebagai sahabat

2. Lemah lembut dan santun

3. Tidak membalas caci maki dengan caci maki pula

4. Menyimak perkataan lawan bicara

5. Memudahkan, tidak mempersulit

6. Bertahap dalam mengajarkan kebaikan dan mencegah keburukan

7. Menyesuaikan materi pembicaraan dengan daya tangkap murid

8. Tidak mempermalukan murid

9. Tidak mencari-cari kesalahan murid

10. Menekankan persamaan dan afiliasi dengan yang diajak

11. Menghargai kedudukan dan status orang yang diajak

12. Memakai bahasa tubuh yang baik

13. Tidak berdebat kusir

Metode Rasulullah Mendidik Anak:

1. Memilih calon Ibu dan Ayah yang baik

2. Mendoakan anak-anak sejak amat dini

3. Memberikan nafkah yang halal untuk anak dan ibunya

4. Membacakan zikir di hadapan Ibu yang akan melahirkan

5. Memperdengarkan azan ke telinga kanan bayi yang baru lahir

6. Mengadakan syukuran dan aqiqah

7. Memberi nama dan panggilan yang baik

8. Tidak mendoakan keburukan untuk anak

9. Selalu bersikap lemah lembut kepada anak

10. Mencurahkan perhatian kepada anak dalam setiap keadaan

11. Memperhatikan hobi/kesukaan anak

12. Bermain bersama anak

13. Memberi pujian dan apresiasi kpd anak

14. Menegur dengan halus

15. Mengajari sopan santun

16. Memilihkan lingkungan pergaulan yang baik

17. Memunculkan potensi anak dengan memintanya menyampaikan pendapat

18. Berdialog dengan bijaksana

19. Memperlakukan anak dgn adil

20. Menggunakan puisi dan cerita

21. Mengajari keterampilan dengan memberi contoh

Sumber: Ensiklopedi Muhammad SAW.: Muhammad sebagai Pendidik (Pelangi Mizan – 2009)

Leave a comment »

Waktu Bunda Sakit…

Jumat siang kemarin, tiba-tiba di kantor Bunda terserang meriang, panas badannya, tulang-tulang pada sakit semua. Akhirnya bunda putuskan untuk pulang lebih cepat. Sampai di rumah Bunda langsung tidur sambil selimutan, Farsya & Amanda diambil alih mbak Rumi. Sampai hari minggu pagi kondisinya tidak kunjung membaik, akhirnya diputuskan untuk berobat ke dokter di dekat rumah.

Alhamdulillah sekali, di setiap ujian Allah SWT selalu ada pelita. Waktu Bunda sakit, Farsya selalu memperhatikan Bunda.

“Bunda sayang sakit ya…”, sambil ngelus-ngelus dahi Bunda.

Waktu nenek datang bawa makanan, Farsya segera menghampiri nenek, sambil berkata,
”Nek…Bunda sakit, sini biar mbak asya yang kasih ke Bunda…”, sambil membawa piring besar berisi nasi kuning dengan hati-hati ke kamar, dengan berkata,
”Bunda makan dulu ya…”

Di klinik dokter pun Farsya menunjukkan perhatiannya, keluar dari mobil menuju praktek dokter Bunda dan Farsya bergandengan, lalu waktu selesai dari ruang dokter menuju mobil awalnya Farsya langsung lari tapi dia segera teringat Bundanya yang lagi sakit dan segera menghampirinya sambil berkata,
”Bunda, sini mbak asya gandeng”

Sampai di rumah, Bunda makan dengan disuapin Farsya dengan sangat sabar. Amanda juga ikut-ikutan nyuapin Bunda.
Farsya & Amanda, terima kasih ya sayang atas perhatian kalian ke Bunda…Bunda senang sekali nak… Smoga perhatian kalian ke Bunda tidak akan luntur oleh waktu & kesibukan kalian di masa yang akan datang…

Comments (2) »

Farsya & Balok

Di suatu sabtu pagi yang cerah, farsya minta main balok. Bunda seneng banget dengan pernyataan-pernyataan farsya..

“ini rumah dan masjid buat ayah bunda..”

“ini gedung kantor buat ayah bunda”

“ini rumah mbak asya..rumah amanda..rumah mbak rumi..*sampai2 mbak rumi ikut dibikinin juga*..”

Alhamdulillah Ya Allah Ya Rahman atas karunia di hari ini..

Date: 18 Juli 2009

Location: Rumah Bintara

Leave a comment »